KARAKTER
BIOGEOGRAFI DAN SOSIOANTROPOLOGI KAB. CIAMIS
Disusun Oleh :
Kelompok
2
Nama Anggota :
Diah Uswatun Hasana
Elga
Afira
Gita Dewi Ratnasari
M.
Taovik
Sanita
Triksi Shepia
Kelas : XI IPA
4
SMA
NEGERI 3 KUNINGAN
KATA
PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Dengan
memanjatkan puji dan syukur kehadirat Illahi Robbi atas rahmat dan hidayahnya, kami telah dapat menyusun tugas
makalah karakter biogeografi dan sosioantropologi Kab. Ciamis.
Meskipun tugas makalah ini masih terdapat
kekurangan-kekurangan baik dilihat dari segi penyusunan maupun dari segi
isinya. Oleh karena itu kami mohon kritik dan saran yang bersifatnya
memperbaiki tugas makalah ini untuk selanjutnya.
Semoga
tugas makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi para pembaca
guna menambah wawasan tentang karakter biogeografi dan sosioantropologi Kab.
Ciamis.
Kuningan, Agustus 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR
………………………………………………………………... i
DAFTAR
ISI
………………………………………………………………………… ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Standar Kompetensi ……………………………………………………….. iii
1.2 Kompetensi Dasar …………………………………………………………. iii
1.3 Indikator …………………………………………………………………… iii
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 Aspek luas wilayah dan letak Geografis …………………………………...
1
2.2 Aspek Topografi …………………………………………………………… 2
2.3 Aspek Iklim ………………………………………………………………... 2
2.4 Hidrologi …………………………………………………………………… 2
2.5 Aspek Populasi …………………………………………………………….. 3
2.6 Penggunaan Lahan ……………………………………………………….… 4
2.7 Kawasan Lindung ………………………………………………………….. 4
2.8 Flora dan Fauna ……………………………………………………………. 5
2.9 Sejarah Kab. Ciamis ……………………………………………………….. 6
2.10.
Obyek
Wisata yang Ada di Kab. Ciamis ………………………………. 8
2.11.
Kebudayaan
yang Ada di Kab. Ciamis ……………………………….. 14
2.12.
Hal-hal
yang Perlu Di Berdayakan …………………………………… 21
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan ……………………………………………………………… 22
3.2 Saran …………………………………………………………………….. 22
BAB
1 PENDAHULUAN
1.1.
Standar Kompetensi
Menganalisis
karakteristik biogeografi dan sosioantropologi wilayah Kabupaten Ciamis.
1.2.
Kompetensi Dasar
1.
Mengamati kondisi karakteristik biogeografi dan sosioantropologi wilayah
Kabupaten Ciamis.
2. Memahami karakteristik biogeografi dan sosioantropologi wilayah Kabupaten Ciamis.
3. Mengamati obyek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis.
4. Mengamati kebudayaan yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis.
2. Memahami karakteristik biogeografi dan sosioantropologi wilayah Kabupaten Ciamis.
3. Mengamati obyek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis.
4. Mengamati kebudayaan yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis.
5.
Mengamati hal-hal yang perlu di berdayakan di wilayah Kabupaten Ciamis.
1.3. Indikator
1. Siswa mampu menjelaskan pengertian biogeografi, sosioantropologi dan mendeskipsikan kondisi wilayah Kabpuaten Ciamis.
2. Siswa mampu menyebutkan karakter biogeografi dan sosioantropologi Kabupaten Ciamis.
3. Siswa mampu menjelaskan dan menyebutkan obyek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis.
4. Siswa mampu menjelaskan dan menyebutkan kebudayaan yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis.
5.
Siswa mampu menjelaskan dan menyebutkan hal-hal yang perlu di berdayakan di
wilayah Kabupaten Ciamis.
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Aspek
Luas Wilayah dan Letak Geografis
Kabupaten
Ciamis mempunyai luas wilayah sekitar 244.479 Ha, secara geografis letaknya
berada pada koordinat 1080 20’ sampai dengan 1080 40’ Bujur Timur dan 70
40’ 20” sampai dengan 70 41’ 20” Lintang Selatan, dengan batas-batas wilayah
sebagai berikut :
- Sebelah Utara
: Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan
- Sebelah Barat
: Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya
- Sebelah Timur
: Provinsi Jawa Tengah dan Kota Banjar
- Sebelah Selatan :
Samudera Indonesia dan Samudra Hindia
Berdasarkan
letak geografisnya, Kabupaten Ciamis berada pada posisi strategis yang dilalui
jalan Nasional lintas Jawa Barat-Jawa Tengah dan jalan Provinsi lintas
Ciamis-Cirebon-Jawa Tengah.
Dalam
konteks pengembangan wilayah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Ciamis mempunyai 2
(dua) Kawasan Andalan yaitu Kawasan Andalan Priangan Timur dengan arahan
pengembangan untuk kegiatan pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, dan
pariwisata serta Kawasan Andalan Pangandaran dengan kegiatan unggulan
pengembangan kepariwisataan dan bisnis kelautan
Berikut
merupakan data mengenai letak geografis Kabupaten Ciamis
- Total Area
: 556.75 km2
- Letak Astronomis
: 1080 20’ - 1080 40’ BT dan 70 40’ 20” - 70 41’
20” LS
Berikut
daftar kecamatan yang ada di kabupaten Ciamis :
|
|
2.2. Aspek
Topografi
Kabupaten Ciamis terletak pada lahan dengan keadaan
morfologi datar - bergelombang sampai pegunungan. Kemiringan lereng berkisar
antara 0 - > 40% dengan sebaran 0 - 2% terdapat di bagian tengah -
timur laut ke selatan dan 2 - > 40% tersebar hampir di seluruh wilayah
kecamatan. Jenis tanahnya didominasi oleh jenis latosol, podsolik, alluvial dan
grumusol.
2.3. Aspek Iklim
Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson,
Kabupaten Ciamis pada umumnya mempunyai tipe iklim C, dengan rata-rata
curah hujan sekitar 2.987 mm/tahun dan suhu rata-rata antara 200 -
300 C.
2.4. Hidrologi
Wilayah
Kabupaten Ciamis dialiri oleh sungai utama yaitu sungai Citanduy yang mengalir
mulai dari Gunung Cakrabuana (hulu) di Kabupaten Tasikmalaya dan bermuara di
Sagara Anakan Provinsi Jawa Tengah dengan anak-anak sungainya terdiri dari
Cimuntur, Cijolang dan Ciseel. Di bagian selatan mengalir Sungai Cimedang
dengan anak-anak sungainya terdiri dari sungai Cikondang, Cibegal, Cipaledang,
Cibungur, Citatah I, Citatah II, Cigugur, Ciharuman, Cigembor, Cikuya,
Cijengkol, Cimagung dan Cicondong.
Sebagian
besar wilayah Kabupaten Ciamis termasuk ke dalam Daerah Aliran Sungai (DAS)
Citanduy, sedangkan sisanya termasuk ke dalam DAS Cimedang. Wilayah Kabupaten
Ciamis yang termasuk DAS Citanduy tersebut, terbagi kedalam Sub DAS Citanduy
Hulu seluas 22.279,38 Ha, Sub DAS Ciseel seluas 77.421,08 Ha, Sub DAS Cimuntur
seluas 55.163,06 Ha dan Sub DAS Cijolang seluas 18.665,99 Ha.
DAS Citanduy
secara nasional dikategorikan sebagai DAS kritis dengan indikator kekritisan
antara lain fluktuasi debit sungai, tingkat erosi dan sedimentasi yang cukup
tinggi ( 5 juta ton/tahun terbawa oleh sungai Citanduy), serta produktivitas
DAS yang relatif rendah.
2.5. Aspek Populasi
Jumlah
penduduk Kabupaten Ciamis pada Tahun 2008 tercatat 1.542.003 jiwa dengan
tingkat kepadatan penduduk rata-rata 619 jiwa/Km2. Persebaran
penduduk terkonsentrasi di wilayah yang relatif telah berkembang
karena ketersediaan akses untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan.
Penduduk dengan kepadatan rata-rata tinggi terdapat di Kecamatan Ciamis, Cikoneng,
Kawali, Cihaurbeuti, Lumbung dan Baregbeg, sedangkan kecamatan lainnya
mempunyai kepadatan penduduk yang relatif rendah.
Menurut struktur umurnya,
penduduk Kabupaten Ciamis didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun)
mencapai 68,67 %, sisanya kelompok usia muda (0-14 tahun) mencapai 23,22 % dan
usia tua (≥ 65 tahun) mencapai 7,54 %. Komposisi penduduk menurut kelompok umur
sampai dengan Tahun 2014 diperkirakan tidak akan banyak berubah dengan kondisi
saat ini.
Laju Pertumbuhan Penduduk
(LPP) selama 5 tahun relatif rendah yaitu rata-rata 0,41% per tahun, lebih
rendah dari rata-rata pertumbuhan Jawa Barat. Upaya pengendalian pertumbuhan
penduduk melalui program Keluarga Berencana dilaksanakan melalui penurunan
angka kelahiran dan menciptakan Norma Keluarga Kecil, Bahagia dan Sejahtera
(NKKBS). Selama Tahun 2004-2008 jumlah peserta KB aktif mengalami peningkatan,
dimana pada Tahun 2004 mencapai 73,73% meningkat menjadi 76,20% dari jumlah
Pasangan Usia Subur (PUS) pada Tahun 2008. Hal lain yang sangat penting adalah tingkat
kemandirian ber-KB yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada Tahun 2004 tercatat peserta KB mandiri sebanyak 47,14% dari total peserta
KB aktif, meningkat menjadi 53,58% pada Tahun 2008. Total Fertility Rate (TFR)
yang menunjukkan angka rata-rata kemampuan wanita melahirkan anak selama usia
reproduksinya pada kurun waktu Tahun 2004-2008 relatif tetap. TFR pada Tahun
2004 mencapai 2,02/1000 perempuan yang dapat melahirkan meningkat menjadi
2,04/1000 perempuan yang dapat melahirkan.
Berdasarkan
tingkat pendidikan yang ditamatkan, penduduk Kabupaten Ciamis mempunyai tingkat
pendidikan relatif rendah. Pada Tahun 2008 tercatat penduduk usia 15 tahun ke
atas berpendidikan SD (50,88%), tidak tamat SD (15,48%), tidak sekolah (2,95%),
SLTP (17,50%), SLTA (10,29%) dan Perguruan Tinggi (2,90%) (BPS, 2008). Penduduk
usia tersebut yang bekerja di sektor pertanian mencapai 43,64%, industri
11,74%, bangunan 4,59%, perdagangan dan hotel/restoran 20,75%, jasa-jasa
12,45%, dan lainnya 6,83%.
Pelayanan
administrasi kependudukan dilaksanakan melalui pembuatan akte kelahiran, KTP
dan Kartu Keluarga yang cenderung semakin meningkat selama Tahun 2004-2008.
Tercatat sebanyak 35.553 lembar Akte Kelahiran, 358.787 lembar KTP dan 233.737
lembar Kartu Keluarga yang telah dibuat pada Tahun 2008. Hal ini menunjukkan tingkat kesadaran
penduduk akan pentingnya administrasi kependudukan
semakin meningkat.
Tantangan kependudukan dimasa depan adalah meningkatnya jumlah
penduduk yang akan berimplikasi langsung terhadap berbagai hal seperti tata
guna lahan, lapangan pekerjaan, fasilitas dan sarana pendidikan serta layanan
kesehatan, dan lain-lain. Meskipun secara faktual, Laju
Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Ciamis selama kurun waktu 5 (lima) tahun
kedepan diproyeksikan kenaikannya relatif tidak terlalu besar, namun
demikian perlu upaya antisipatif yang lebih komprehensif agar kenaikan jumlah
penduduk dapat diimbangi dengan ketersediaan fasilitas yang dibutuhkan. Hal
lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah kemungkinan terjadinya persebaran
penduduk yang tidak seimbang dan hanya terkonsentrasi di daerah
perkotaan.
2.6. Penggunaan
Lahan
Penggunaan lahan di Kabupaten Ciamis
pada Tahun 2007 adalah sebagai berikut :
- Sawah
: 51.688 Ha (21,14%)
- Pekarangan
: 29.926 Ha (12,24%)
- Tegal/Kebun/ladang/huma
: 76.676 Ha (31,36%)
- Padang Rumput
: 1.777 Ha (0,73%)
- Perkebunan Negara/Swasta
: 16.188 Ha (6,62%)
- Tambak
: 43
Ha
(0,02%)
- Kolam
: 2.716
(1,11%)
- Lain-Lain
:
9.324
(3,81%)
2.7. Kawasan Lindung
Kawasan lindung merupakan kawasan yang mempunyai fungsi
utama untuk melindungi kelestarian lingkungan yang mencakup sumber daya alam
dan sumber daya buatan serta nilai-nilai sejarah dan budaya, guna kepentingan
pembangunan berkelanjutan. Jenis kawasan lindung yang ada di Kabupaten Ciamis
terdiri dari hutan lindung, kawasan bergambut, kawasan resapan air,
sempadan sungai, sempadan situ, sempadan pantai, kawasan rawan bencana, cagar
alam, suaka marga satwa, taman wisata alam dan kawasan cagar budaya.
Hutan lindung terdapat di Kecamatan Panumbangan,
Cihaurbeuti, Cikoneng dan Panjalu dengan luas areal sekitar 12.637,51 Ha.
Kawasan bergambut terdapat di Kecamatan Lakbok meliputi areal sekitar 120 Ha
dengan ketebalan sekitar 3 meter berupa daratan dan sawah.
Kawasan resapan air banyak
terdapat di wilayah Ciamis utara (Kecamatan Jatinagara, Rancah, Sukadana,
Cijeungjing, Tambaksari, Cipaku, Kawali, Panjalu, Panawangan, Lumbung,
Cihaurbeuti, Panumbangan, Sadananya dan Cikoneng). Sedangkan sempadan sungai
terdapat hampir di seluruh kecamatan dengan sungai utama yaitu Sungai Citanduy
dan Cimedang. Sempadan situ terdapat di Situ Lengkong Panjalu, sedangkan
sempadan pantai terbentang sepanjang 91 km yang meliputi 6 kecamatan
(Kalipucang, Pangandaran, Sidamulih, Cijulang, Parigi dan Cimerak).
Kawasan rawan bencana merupakan kawasan yang perlu
mendapat perhatian khusus. Kawasan rawan bencana longsor tersebar di Kecamatan
Panawangan, Kawali, Cikoneng, Rajadesa, Jatinagara, Rancah dan Tambaksari;
kawasan rawan bencana banjir di Kecamatan Pamarican, Banjarsari, Padaherang,
Kalipucang, Lakbok dan Pangandaran; kawasan rawan kekeringan di Kecamatan
Langkaplancar dan Cigugur; serta kawasan rawan bencana gempa bumi/tsunami di
Kecamatan Cimerak, Cijulang, Parigi, Sidamulih, Pangandaran dan Kalipucang.
Cagar alam terdapat di Pananjung Pangandaran seluas
419,3 Ha dan Panjalu seluas 16 Ha. Suaka Margasatwa terdapat di Gunung Sawal
meliputi areal seluas 5.400 Ha. Taman Wisata Alam (TWA) darat dan laut terdapat
di Pananjung - Pangandaran, sedangkan Cagar Budaya terdapat di Astana Gede
Kawali seluas 5,5 Ha, Karangkamulyan - Cijeungjing seluas 24 Ha dan Kampung
Kuta - Tambaksari seluas 17 Ha. Selain itu, Cagar Budaya juga terdapat di Kecamatan Ciamis berupa
kawasan tempat disemayamkannya para Bupati Galuh pada masa lalu.
2.8. Flora dan
Fauna
·
Flora
Jenis Pohon
yang terdapat di Ciamis antara lain : Teureup (Artocarpus elasticus),
Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis argantea), Pasang
(Quercus sp), Kiara (Ficus sp) dan Jamuju (Podocarpus imbricatus).
Sedangkan jenis pohon yang ada dalam hutan tanaman adalah Pinus (Pinus
merkusii), Damar (Agathis lorantifolia), Mahoni (Switenia
mahagoni), Rasamala (Altingia excelsea) dan Kaliandra (Caliandra
sp.)
·
Fauna
Jenis satwa
liar yang ada diantaranya dalah : Meong Congkok (Fellis bengalensis),
Babi Hutan (Sus vitatus), Macan Kumbang (Panthera pardus), Kancil
(Tragulus javanicus), Trenggiling (Manis javanicus), Kera (Macaca
fascicularis), Bajing (Sciurus sp), Lutung (Tracyphitecus auratus),
Macan tutul (Panthera pardus), Kijang (Muntiacus muntjak), Kalong
(Pteropus vamyrus), Elang Lurik (Spilornia cheela), Saeran (Dicrurus
leucophaeus) dan lain-lain.
Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah
(kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang).
Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata "galuh",
berasal dari kata "sakaloh" berarti "dari sungai asalnya",
dan dalam lidah Banyumas menjadi "segaluh". Dalam Bahasa Sansekerta,
kata "galu" menunjukkan sejenis permata, dan juga biasa dipergunakan
untuk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum menikah.
Sebagaimana
riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan
asal-usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional yang
mengandung unsur-unsur mitos, dongeng atau legenda disamping unsur yang
bersifat historis. Naskah-naskah ini antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di
Pulo Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng
Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini
umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang
sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut,
diantaranya Sanghyang Siksakanda ÔNg Karesian, ditulis tahun 1518, ketika
Kerajaan Sunda masih ada dan Carita Parahyangan, ditulis tahun 1580.
Berdirinya
Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama tidak terlepas
dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim
Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan sebagai berikut:
Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang
berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?); Kerajaan
Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan; Galuh
Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan; Galuh Lalean
berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan; Galuh Pataruman berlokasi di
Banjarsari beribukota Banjar Pataruman; Galuh Kalingga berlokasi di Bojong
beribukota Karangkamulyan; Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota
Bagolo; Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan; Galuh
Pakuan beribukota di Kawali; Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan;
Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka; Kabupaten Galuh Nagara
Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung;
Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di
Imbanagara dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis (sejak
tahun 1812).
Untuk penelitian secara historis, kapan Kerajaan Galuh
didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sezaman berupa prasasti. Ada
prasasti yang memuat nama "Galuh", meskipun nama tanpa disertai
penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja
Balitung disebut sebagai "Rakai Galuh". Dalam Prasasti Siman berangka
tahun 943, disebutkan bahwa "kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram
ingwatu galuh". Kemudian dalam sebuah Piagam Calcutta disebutkan bahwa
para musuh penyerang Airlangga lari ke Galuh dan Barat, mereka dimusnahkan pada
tahun 1031 Masehi. Dalam beberapa prasasti di Jawa Timur dan dalam Kitab
Pararaton (diperkirakan ditulis pada abad ke-15), disebutkan sebuah tempat
bernama "Hujung Galuh" yang terletak di tepi sungai Brantas. Nama
Galuh sebagai ibukota disebut berkali-kali dalam naskah sebuah prasasti
berangka tahun 732, ditemukan di halaman Percandian Gunung Wukir di Dukuh
Canggal (dekat Muntilan sekarang).
Pada
bagian carita Parahyangan, disebutkan bahwa Prabu Maharaja berkedudukan di
Kawali. Setelah menjadi raja selama tujuh tahun, pergi ke Jawa terjadilah
perang di Majapahit. Dari sumber lain diketahui bahwa Prabu Hayam Wuruk, yang
baru naik tahta pada tahun 1350, meminta Puteri Prabu Maharaja untuk menjadi
isterinya. Hanya saja, konon, Patih Gajah Mada menghendaki Puteri itu menjadi
upeti. Raja Sunda tidak menerima sikap arogan Majapahit ini dan memilih
berperang hingga gugur dalam peperangan di Bubat. Puteranya yang bernama
Niskala Wastu Kancana waktu itu masih kecil. Oleh karena itu kerajaan dipegang
Hyang Bunisora beberapa waktu sebelum akhirnya diserahkan kepada Niskala Wastu
Kancana ketika sudah dewasa. Keterangan mengenai Niskala Wastu Kancana, dapat
diperjelas dengan bukti berupa Prasasti Kawali dan Prasasti Batutulis serta
Kebantenan.
Pada
tahun 1595, Galuh jatuh ke tangan Senapati dari Mataram. Invasi Mataram ke
Galuh semakin diperkuat pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh, Adipati
Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram dan cacah sebanyak 960 orang. Ketika
Mataram merencanakan serangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628, massa Mataram
di Priangan bersilang pendapat. Rangga Gempol I dari Sumedang misalnya,
menginginkan pertahanan diperkuat dahulu, sedangkan Dipati Ukur dari Tatar
Ukur, menginginkan serangan segera dilakukan. Pertentangan terjadi juga di
Galuh antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya Dipati Kertabumi, Bupati di
Bojonglopang, anak Prabu Dimuntur keturunan Geusan Ulun dari Sumedang. Dalam
perselisihan tersebut Adipati Panaekan terbunuh tahun 1625. Ia kemudian diganti
puteranya Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Garatengah (Cineam
sekarang).
Pada
masa Dipati Imbanagara, ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Garatengah
(Cineam) ke Calingcing. Tetapi tidak lama kemudian dipindahkan ke Bendanagara
(Panyingkiran). Pada Tahun 1693, Bupati Sutadinata diangkat VOC sebagai Bupati
Galuh menggantikan Angganaya. Pada tahun 1706, ia digantikan pula oleh
Kusumadinata I (1706-1727).
Pada
pertengahan abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan R.A.A. Kusumadiningrat
menjadi Bupati Galuh, pemerintah kolonial sedang giat-giatnya melaksanakan
tanam paksa. Rakyat yang ada di Wilayah Galuh, disamping dipaksa menanam kopi
juga menanam nila. Untuk meringankan beban yang harus ditanggung rakyat, R.A.A.
Kusumadiningrat yang dikenal sebagai "Kangjeng Perbu" oleh rakyatnya,
membangun saluran air dan dam-dam untuk mengairi daerah pesawahan. Sejak Tahun
1853, Kangjeng Perbu tinggal di kediaman yang dinamai Keraton Selagangga.
Antara
tahun 1859-1877, dilakukan pembangunan gedung di ibu kota kabupaten. Disamping
itu perhatiannya terhadap pendidikan pun sangat besar pula. Kangjeng Perbu
memerintah hingga tahun 1886, dan jabatannya diwariskan kepada puteranya yaitu
Raden Adipati Aria Kusumasubrata.
Pada tahun 1915, Kabupaten Galuh dimasukkan ke Keresidenan Priangan, dan secara resmi namanya diganti menjadi Kabupaten Ciamis.
Pada tahun 1915, Kabupaten Galuh dimasukkan ke Keresidenan Priangan, dan secara resmi namanya diganti menjadi Kabupaten Ciamis.
2.9. Tempat Wisata Di Kabupaten Ciamis
Objek wisata yang merupakan
primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung Kecamatan
Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis.
·
Cukang Taneuh ( Green Canyon)
Jika merasa terlalu jauh berkunjung ke Grand Canyon yang ada di Amerika sana, sekarang Anda tidak perlu terlalu kecewa lagi. Indonesia ternyata juga memiliki Green Canyon sendiri yang tak kalah cantiknya.
·
Pantai Batu Karas
Pantai
Batu Karas adalah sebuah pantai yang menjadi tujuan utama para wisata di daerah
pangandaran, Ciamis, Jawa Barat.Objek wisata yang satu ini merupakan perpaduan
nuansa alam antara objek wisata Pangandaran dan Pantai Batu Hiu dengan suasana
alam yang tenang, gelombang laut yang bersahabat juga pantainya yang landai
membuat pengunjung betah.
Pantai
Batu Hiu merupakan salah satu tempat pariwisata yang berada di kota Ciamis.
Batu hiu berjarak sekitar 14 km dari pangandaran sebagai objek wisata pilihan
ketika anda datang ke Pangandaran. Pantai ini berada di Desa Ciliang Kecamatan
Parigi, kurang lebih 14 km dari Pangandaran ke arah Selatan. Memiliki panorama
alam yang sangat indah. Dari atas bukit kecil yang ditumbuhi pohon-pohon Pandan
Wong, kita menyaksikan birunya Samudra Indonesia dengan deburan ombaknya yang
menggulung putih.
Terletak di Dusun Madasari Desa Masawah Kecamatan Cimerak Kabupaten Ciamis, sekitar 40 km dari Pantai Pangandaran, atau sekitar 10 km dari Pantai Batukaras.Meupakan obyek wisata yang masih perawan.
Objek wisata ini terletak di Desa Sukaresik Kecamatan Sidamulih ke arah Batu Hiu belok kiri. Di objek wisata ini pengunjung selain dapat menikmati keindahan alam juga melakukan rekreasi berupa bersampan,memancing dan berkemah.
Pangandaran
Waterpark adalah tempat wisata terpopuler di Kabupaten Ciamis,dimana lokasi
objek wisata ini terletak sebelah timur jawa barat. Pantai ini dinobatkan
sebagai pantai terbaik di Pulau Jawa menurut AsiaRooms. Selain dengan keindahan
pantainya, paantai Pangandaran juga memiliki beberapa keistimewaan lainnya.
Obyek wisata alam Citumang merupakan obyek wisata yang memiliki daya tarik khusus, yaitu sungai Citumang yang mengalir membelah hutan jati dengan airnya yang bening kebiruan. Tepian sungai yang terdiri dari ornamen.
Ada
sejumlah objek wisata pantai di Kabupaten Ciamis selain Pantai Pangandaran dan
Pantai Batu Hiu. Namun pantai ini sangat jarang diperhatikan masyarakat apalagi
pemerintah.
Satu lagi objek atau tempat wisata di Pangandaran yang menjadi tujuan wisata favorit warga lokal populer dengan nama Saung Muara, berada di ujung dari jalan Pamugaran dan bisa di tempuh juga melalui pintu masuk objek wisata.
Pantai
Karang Nini adalah kawasan perpaduan antara hutan dan pantai yang berbasatan
Samudra Indonesia, dengan pemandangan yang indah serta hamparan hutan jati yang
luas dan rimba yang masih alami. Selain itu di kawasan ini juga terdapat daya
tarik wisata lain seperti Mata Air Sumur Tujuh yang dipercaya dapat membuat
awet muda, juga aquarium alam di muara Cipangbokongan yang sangat menarik di
saat air laut surut, di mana para pengunjung dapat melihat berbagai jenis ikan hias
yang terjebak di relung-relung terumbu.
Merupakan
perpaduan antara alam pegunungan dengan panorama pantai. Dari sebuah bukit kita
bisa menyaksikan bergeloranya samudra Indonesia dengan gelombang laut selatan
menghempas karang, sehingga buih-buih putih birunya laut.
·
Karangkamulyan ini terletak Kecamatan Cijeungjing, 16 km sebelah timur
Ciamis. Jejak peninggalan legenda Ciung Wanara, anak Sanghyang
Permanadikusumah.
·
Goa Donan merupakan sebuah goa yang berada di Desa Tunggilis,
Kecamatan Kalipucang, sekitar 72 km dari Ciamis. Sebuah gua alam sepanjang 500
meter, dengan lorong yang lebar dan bentuk karang yang unik.
·
Curug
Tujuh Cibolang merupakan sebuah objek Wisata yang
terletak di Desa Sandingtaman Kecamatan Panjalu, sekitar 35 km dari Ciamis arah
ke utara.
·
Citumang ini terletak di Desa Bojong, Parigi, 13 km sebelah timur
Pangandaran, dengan aliran sungai yang keluar dari goa yang jatuh membentuk
curug; di balik curug ada goa lain yang cukup panjang.
·
Cagar Alam
Pananjung ini berada di Desa Pananjung
Pangandaran dengan koleksi flora fauna langka, gua alam, Gua Jepang, mata air
Rengganis dan Pantai Pasir Putih.
2.10. KEBUDAYAAN
YANG ADA DI KAB. CIAMIS
·
Ronggeng Gunung
Sejarah dan Perkembangan Ronggeng Gunung
Menurut seorang seniman Ciamis, Rachmayati
Nilakusumah atau yang lebih akrab dengan panggilan Teh Eneng Godi, Ronggeng
Gunung merupakan seni tari asli Kabupaten Ciamis, tepatnya berasal dari desa
Ciulu, kecamatan Banjarsari. Asal mula terciptanya tarian ini berawal dari
cerita mengenai Kian Santang yang merupakan tokoh agama Islam yang berkehendak
untuk menyebarkan Islam di desa tersebut. Kian Santang menjelaskan bahwa syarat
utama untuk dapat masuk Islam ialah dengan mengucap dua kalimat syahadat dan
khitan bagi laki-laki.
Konon, seluruh warga setempat menerima dengan
baik ajaran yang disampaikan oleh Kian Santang, baik mengenai syahadat maupun
khitan. Namun, ketika khitan pertama kali dilakukan, terdapat kesalahan karena
ketidaktahuan orang yang disuruh mengkhitannya, sehingga menimbulkan korban
meninggal. Diceritakan, korban yang meninggal tersebut merupakan seorang anak
laki-laki yang berparas rupawan dan banyak menarik perhatian gadis-gadis desa.
Dan salah satu dari mereka ketika mengetahui bahwa anak laki-laki itu
meninggal, dia langsung memangku mayat anak laki-laki itu sambil menangis.
Sedangkan, warga-warga lainnya berusaha untuk meninggalkan desa dan pergi ke
gunung, karena merasa takut anak lelaki mereka menjadi korban meninggal
khitanan selanjutnya.
Selagi sang gadis menangisi jenazah tersebut
yang sudah mulai membusuk, seorang Kyai yang telah dianggap sebagai sesepuh
oleh warga setempat, mendengar bahwa tangisan sang gadis bukanlah tangisan
biasa. Yang terdengar ialah sebuah lantunan syair yang terbalut dalam sebuah
melodi, sehingga terdengar seperti sebuah lagu.
Di satu sisi, Kian Santang mencoba untuk
mengembalikan kepercayaan warga setempat untuk melakukan khitanan bagi anak laki-lakinya.
Dan mereka pun mencoba untuk melakukan tradisi khitan yang kedua kalinya, tentu
saja, khitanan yang kedua ini berhasil dilakukan. Untuk merayakan keberhasilan
khitan yang kedua dan juga untuk menghibur anak laki-laki yang dikhitan
tersebut, Kian Santang dan Kyai sesepuh mereka memerintahkan agar si gadis yang
sedang menangisi mayat korban meninggal itu dipanggil dan disuruh untuk
menghibur dengan lagu-lagunya. Salah satu lagu yang dinyanyikan secara spontan
ialah lagu yang berjudul “Manangis”, yang potongan liriknya sebagai berikut:
Ka mana boboko suling
Teu kadeuleu-deuleu deui
Ka
mana kabogoh kuring
Teu Kadeulu datang deui
Suara dan nyanyian sang gadis desa
tersebut menarik hati beberapa pria yang menyaksikannya menyanyi, dan mereka
pun mengapresiasikan kesukaan mereka dengan ikut menari dan membentuk formasi
lingkaran, melingkari sang gadis desa. Mereka menari dengan satu irama, dan
lebih menyelaraskan gerakan kaki mereka dibandingkan dengan gerakan tangan mereka.
Dari cerita itulah, maka muncul sebuah seni tari
yang diberi nama Ronggeng Gunung. Dan, potongan lirik lagu di atas merupakan
salah satu contoh dari banyak sekali lagu-lagu yang dinyanyikan oleh seorang
wanita yang sekarang dikenal dengan sebutan “Ronggeng”. (Wawancara:23 Agustus
2011)
Namun, seiring dengan perkembangan waktu, seni
Ronggeng Gunung mengalami kemunduran eksistensinya. Semakin lama, apresiasi
yang diterima oleh Ronggeng Gunung semakin rendah. Bahkan hanya untuk sekedar
mengenal saja, masyarakat Ciamis seolah-olah merasa enggan karena Ronggeng
Gunung kerap kali dianggap sebagai seni yang masih kuno. Padahal sebenarnya
Ronggeng Gunung memiliki banyak sekali potensi yang dapat dikembangkan sebagai
pendukung perwujudan strategi pembangunan Kabupaten Ciamis.
Dilihat dari sejarah asal mula terciptanya
Ronggeng Gunung, tarian ini merupakan kesenian yang mengandung banyak sekali
makna, selain makna hiburan yang memang telah menjadi dasar terbentuknya sebuah
tarian Ronggeng Gunung. Makna-makna lain, seperti halnya nilai keagamaan yang
kuat sekali terkandung dalam cerita Ronggeng Gunung, dan juga nilai kebersamaan
yang merupakan tujuan yang hendak dicapai jika dilihat dari sejarahnya. Nilai
keagamaan itu dapat dilihat dan dirasakan ketika diulas kembali cerita Ronggeng
Gunung yang telah dipaparkan di atas, mengenai persyaratan masuk agama Islam,
norma-norma dalam agama Islam dan lain sebagainya.
Unsur keagamaan yang terkandung juga dapat
dilihat dari peraturan-peraturan yang mengikat dalam pertunjukan seni tari ini.
Seperti misalnya, aturan yang melarang para penari laki-laki yang menari
mengelilingi sang Ronggeng untuk mendekat, mengganggu atau bahkan
menyentuh sang Ronggeng yang berada dalam lingkaran penari laki-laki
tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Ronggeng Gunung tetap mempertahankan dan
mengutamakan nilai keagamaan, karena di dalam agama Islam, seorang laki-laki
harus menghormati, menjaga dan melindungi kehormatan seorang wanita.
Selain itu, gerakan tarian Ronggeng Gunung tidak
sama seperti gerakan seni tari lainnya. Tarian yang dipertunjukan dalam
Ronggeng Gunung ini hanya berupa gerakan kaki yang sederhana dan tidak
berlebihan. Hal ini ditujukan untuk menjauhkan pandangan negatif terhadap seni
tari ronggeng yang kerap kali menganggap bahwa seni tari ronggeng itu identik
dengan keerotisannya.
·
Acara
Nyangku
Asal-usul Upacara Adat Sakral Nyangku
Dalam upacara sakral Nyangku, Museum Bumi Alit dan Situ
Lengkong, satu sama lain saling berhubungan. Ketiga-tiganya merupakan tonggak
sejarah terjadinya pergeseran keadaan sejarah Panjalu Lama ke Panjalu Baru.
Upacara adat sakral Nyangku juga merupakan peninggalan raja-raja Panjalu yang
sekarang masih ada.
Upacara adat sakral Nyangku pada jaman dahulu merupakan
suatu misi yang agung, yaitu salah satu cara untuk menyebarkan agama Islam agar
rakyat Panjalu memeluk agama Islam. Upacara adat sakral Nyangku biasanya
dilaksanakan setiap tahun satu kali yaitu pada bulan Robiul Awal (Maulud) pada
minggu terakhir hari Senin dan Jum’at.
Istilah Nyangku berasal dari bahasa Arab yaitu “Yanko”,
yang artinya membersihkan. Karena salah mengucapkan orang Sunda maka menjadi “Nyangku”.
Upacara adat sakral Nyangku adalah upacara membersihkan benda-benda pusaka
peninggalan para leluhur Panjalu.
Tujuan dari upacara adat sakral Nyangku adalah untuk merawat
benda-benda pusaka supaya awet dengan tata cara tersendiri sebagai tradisi atau
adat. Namun hakikat dari upacara adat sakral Nyangku adalah membersihkan dari
segala sesuatu yang dilarang oleh agama. Selain merawat benda-benda pusaka
upacara adat sakral Nyangku juga bertujuan untuk memperingati maulud Nabi
Muhammad SAW dan mempererat tali persaudaraan keturunan Panjalu.
Pelaksanaan Upacara Adat Sakral Nyangku
Penyelenggaraan upacara adat sakral nyangku dilaksananak oleh
para sesepuh Panjalu, unsur pemerintah desa, instansi-instansi yang
terkait, LKMD, tokoh masyarakat, dan para Kuncen. Jalannya upacara adat sakral
Nyangku dikoordinir oleh Yayasan Noros Ngora dan desa.
Sebagai persiapan upacara adat sakral Nyangku, semua
keluarga keturunan Panjalu menjelang maulud Nabi Muhammad Saw biasanya jaman
dulu suka menyediakan beras sebagai bahan sesajen untuk membuat tumpeng. Beras
tersebut harus dikupas dengan tangan dari tanggal satu Maulud sampai dengan
satu hari sebelum pelaksanaan upacara Nyangku. Selanjutnya para warga keturunan
Panjalu mengunjungi makan raja-raja Panjalu untuk berziarah dan memberitahukan
upacara kepada kuncen-kuncen para leluhur Panjalu.
Kemudian dilakukan pengambilan air untuk membersihkan
benda-benda pusaka dari tujuh sumber mata air: 1. Mata air Situ Lengkong, 2.
Karantenan, 3. Kapunduhan, 4. Cipanjalu, 5. Kubangkelong, 6. Pasanggrahan dan
7. Kulah Bongbang Kancana. Pengambilan air dilakukan oleh kuncen Bumi Alit atau
petugas yang ditunjuk. Keperluan lain yang diperlukan dalam upacara adalah
sesajen yang terdiri dari tujuah macam dan ditambah umbi-umbian, ke tujuh macam
itu adalah: 1. ayam panggang, 2. tumpeng nasi merah, 3. tumpeng nasi kuning, 4.
ikan dari Situ Lengkong, 5. sayur daun kelor, 6. telur ayam kampung dan 7.
umbi-umbian. Selain itu juga ditambah tujuah macam minuman yaitu : 1. kopi
pahit, 2. kopi manis, 3. air putih, 4. air teh, 5. air mawar, 6. air bajigur,
dan 7. rujak pisang. Perlengkapan yang lain yang diperlukan dalam upacara
adalah sembilan payung dan kesenian Gemyung untuk mengiringi jalannya upacara.
Sebelum upacara adat sakral Nyangku dilaksanakan, pada malam
harinya diadakan suatu acara Mauludan untuk memperingati kelahiran Kanjeng Nabi
Muhammad SAW yang dihadiri oleh para sesepuh Panjalu serta masyarakat yang
datang dari berbagai penjuru dengan susunan acara biasanya:
1.
Pembuka,
2.
Pembacaan ayat suci Alqur’an
diteruskan dengan tawasul dan membaca berzanzi,
3.
Penjelasan atau riwayat singkat
pelaksanaan Nyangku oleh ketua Yayasan Boros ngora yaitu Bapak H. Atong
Cakradinata,
4. Sambutan-sambutan :
v Wakil dari pemerintah daerah
v Sesepuh Panjalu
v Kasi kebudayaan Depdiknas Kabupaten Ciamis
v Uraian Maulid Nabi.
v Do’a dan tutup dilanjutkan dengan acara kesenian Gemyung
yang dilaksanakan semalam suntuk sampai pukul 03.00.
Pada pagi harinya dengan berpakaian adat kerajaan, para
sesepuh Panjalu dan keluarga besar Yayasan Borosngora berjalan beriringan
menuju Bumi alit, tempat benda-benda pusaka disimpan. Kemudian dibacakan
puji-pujian dan sholawat Nabi Muhammad SAW, kemudian benda pusaka yang sudah
dibungkus dengan kain putih mulai disiapkan untuk segera diarak menuju
tempat pembersihan.
Perjalanannya dikawal oleh peserta upacara adat serta
diiringi dengan musik gemyung dan bacaan sholawat Nabi. Benda-benda pusaka
diarak kurang lebih sejauh1 Km menuju Nusa Gede Situ Lengkong. Pada upacara
Nyangku selain diiringi oleh musik gemyung juga didiringi oleh upacara adat.
Barisan pembawa bendera umbul-umbul, penabuh gemyung dan barisan para sesepuh
Panjalu berjalan beriringan dengan para pembawa bendera pusaka.
Kemudian setelah sampai di Situ Lengkong dengan perahu
mereka menuju Nusa Gede dengan dikawal oleh perahu sebanyak 20 buah, kemudian
diarak kembali menuju bangunan kecil yang ada di Nusa gedeberupa bangku yang
beralaaskan kasur yang khusus dibuat untuk upacara Nyangku. Benda-benda pusaka
kemudian disimpan di atas kasur tersebut dan satu persatu mulai dibuka
bungkusnya lalu diperlihatkan kepada pengunjung sambil dibacakan riwayatnya
oleh H. Atong Cakradinata. Setelah itu benda-benda pusaka mulai
dibersihkan dengan air dari tujuh sumber memakai jeruk mipis. Yang
pertama kali dibersihkan adalah pedang Sanghyang Boros Ngora. Setelah selesai
dicuci lalu dioles minyak kelapa yang dibuat khusus lalu dibungkus dengan cara
melilitkan zanur (daun Kelapa muda) kemudian dibungkus kembali dengan kain
putih yang terdiri dari tujuh lapis, kemudian memakai tali dari benang
boeh dan dikeringkan dengan asap kemenyan, setelah itu disimpan kembali
di Bumi alit.
Pelaksanaan upacara adat sakral Nyangku tidak selamanya
dilaksanakan di balai desa atau di alun-alun tergantung situasi dan kondisi.
Namun walaupun dilaksanakan di balai desa atau di alun-alun tetapi tidak
mengurangi kesakralannya. Kadang-kadang sebelum rombongan datang ke bale desa,
diadakan penjemputan dengan karesmen adat seolah-olah yang datang itu calon
pengantin pria dan diramaikan oleh berbagai kesenian diluar kesenian Gemyung.
Bahkan di alun-alun seminggu sebelum hari H, Nyangku sudah ada kegiatan pasar
malam.
Benda-benda yang dibersihkan pada upacara adat sakral
Nyangku adalah diantaranya sebagai berikut:
1.
Pedang sebagai senjata pembela diri
dalam rangka menyebarkan agama Islam.
2.
Cis sebagai senjata pembela dalam
rangka menyebarkan agama Islam
3.
Kujang bekas membelah belanga yang
menutupi kepala Bombang Kancana.
4.
Keris komando senjat bekas para raja
Panjalu sebagai tongkat komando.
5.
Keris pegangan para Bupati Panjalu.
6.
Pancaworo senjata perang
7.
Bangreng merupakan senjata perang
8.
Gong kecil alat untuk
mengumpulkan rakyat dimasa yang dulu
9.
Semua Benda Pusaka yang ada di
keluarga Yayasan Borosngora dan benda pusaka yang ada dimasyarakat Panjalu.
·
Bumi Alit
Bumi Alit merupakan suatu bangunan tempat penyimpanan benda-benda pusaka kerajan sewaktu Kerajaan
Panjalu berdiri sampai sekarang. Letak Bumi Alit tidak jauh dari Situ
Lengkong, tempatnya terletak dekat terminal Panjalu. Bumi Alit yaitu
suatubangunan kecil yang ditempatkan pada suatu tempat yang diberi nama
“Pasucian”. Nama pasucian diberikan oleh pendirinya yaitu seorang Raja Panjalu
yang bernama Prabu Sanghyang Boros Ngora atau Syeh Haji Dul Imam, yang
merupakan Raja Panjalu yang memeluk agama Islam. Bumi Alit atau pasucian pada
awalnya terletak di Buni Sakti, kemudian dipindahkan ke Desa Panjalu oleh Prabu
Sanghyang Boros Ngora bersamabenda-benda pusaka Kerajaan Panjalu.
Bentuk Bumi Alit yang lama masih berbentuk
tradisional, tenmpatnya masih berupa tanaman lumut yang dibatasi oleh
batu-batu besar. Sedangkan disekelilingnya dipagari oleh tanaman waregu, di
tengah tanaman itu berdiri bangunan Bumi alit yang berukuran besar.
Bangunan yang dulu terbuat dari kayu, bambu dan ijuk, bawahnya bertiang tinggi,
badan bangunan berdinding bilik sedangkan atapnya dari suhunan ijuk berbentuk
pelana. Ujung bungbung menciut berujung runcing dan ditutup dengan papan
kayu berukir. Pada sisi bagian barat terdapat pintu kecil yang depannya
terdapat tangga kayu yang kuat dari kayu balok tebal.
Bumi Alit yang sekarang ini adalah hasil dari pemugaran pada
tahun 1955 yang dilaksanakan oleh warga Panjalu dan sesepuh Panjalu yang
bernama R.H. Sewaka, Alm. Sedangkan bentuk bangunan Musium Bumi Alit yang
sekarang ini adalah campuran bentuk modern dengan bentuk masjid jaman dahhulu
yang beratapkan susun tiga. Pintu masuk ke Musium Bumi alit terdapat
patung ular bermahkota dan dipintu gerbang atau gapura terdapat patung kepala
gajah. Pemeliharaan Musium Bumi Alit dilakukan oleh pemerintah desa
Panjalu dibawah pengawasan Departemen pendidikan dan kebudayaan
Kabupaten Ciamis.
·
Siloka
Berbicara tentang siloka memang orang-orang jaman dahhulu
sering segala sesuatu pepatah dinyatakan dengan siloka.
Contoh:
- Ø Gayung Bungbas adalah siloka
diri manusia seperti Rusa/Gayung Bungbas. Bila pagi-pagi diisi
makanan, sorenya akan kosong. Ia (terbuang airnya) dan akan minta diisi
lagi. Bila hidup hanya untuk makan/memuaskan nafsu tidak akan ada puasnya,
manusia jadi rakus dan kosong tiada arti. Agar hidup jadi berarti, orang
mesti beragama, beriman, berilmu, beramal baik/beramal soleh.
- Ø Gayung Bungbas dapat penuh
dengan air zamzam, berarti isilah diri dengan agama/kesucian.
- Ø Gayung Bungbas dapat penuh
dengan air zamzam, berarti isilah diri dengan agama/kesucian.
- Ø Situ Lengkong yang berasal
dari air zamzam, dijadikan Benteng keraton, mengandung siloka yang berarti:
“Tiada penangkal hidup yang baik, kecuali kesucian, yaitu suci di dalam
hati, suci dalam ucap, suci dalam perbuatan dan suci dalam makanan dan
pakaian”.
2.10.
Hal-hal
yang Perlu Di Berdayakan
·
Seharusnya pejabat yang ada di kabupaten
ciamis bisa mengelola potensi perekonomian dengan baik agar sarana dan
prasarana desa-desa yang tertinggal bisa mendapatkan sarana dan prasarana layak
seperti di daerah-daerah yang berada di pusat ciamis itu sendiri. Salah satu
upayanya adalah memberikan peran lebih kepada masyarakat sekitar hutan.
Termasuk di dalamnya adalah upaya untuk meningkatkan taraf perekonomian.
Misalnya dengan pelatihan pengolahan hasil bumi.
·
Masjid yang selama ini hanya dijadikan
tempat beribadah kepada Alloh perlu lebih diberdayakan. Masjid harus memerankan
fungsi sosial, budaya, pendidikan, ekonomi dan lainnya.
·
Mengenai kondisi jalan raya yang
rusak dan sangat buruk di daerah Kecamatan Lakbok yang notabene secara
administrasi merupakan wilayah Kabupaten Ciamis, wilayah yang merupakan
Karesidenan Kota Banjar ini sebaiknya harus ada pembenahan dari segala sisi.
Baik itu infrastruktur jalan maupun irigasi berkelanjutan yang harus mendapat
tanggapan secara serius dari pemerintah Kabupaten Ciamis.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari materi di atas dapat di simpulkan bahwa di
wilayah Jawa Barat khususnya di wilayah Kabupaten Ciamis banyak sekali
fenomena-fenomena yang tidak ketahui, dimulai dari kebudayaan, obyek wisata,
bahkan hal-hal yang memprihatinkan yang sama sekali tidak kita ketahui. Di
wilayah Jawa Barat memang kaya akan keindahan alamnya sampe keindahan para
penghuninya. Wilayah Kabupaten Ciamis juga sangat banyak terdapat kebudayaan
hingga obyek wisata yang berbaur mistik yang sangat menggoda para wisatawan
untuk mengunjungi semua tempat itu dan mencari tahu informasi akan humor-humor
tersebut.
3.2. Saran
Sebaiknya semua kebudayaan, obyek
wisata yang ada di Kabupaten Ciamis tetap dikembangkan dan dilestarikan sebaik
mungkin agar kelak bisa membantu sumber daya pendapatan Pemerintah maupun
Warganya agar bisa hidup makmur dan sejahtera. Dan juga sebaiknya pembangunan
sarana dan prasarana ditangani dan dibenahi agar semua pelosok-pelosok bisa
merasakan fasilitas yang memadai seperti daerah yang lainnya. Agar mereka juga
tidak tertinggal baik dalam keadaan perekonomian, komunikasi ataupun
pembangunan. Semuanya harus tetap dijaga dan dilestarikan baik Sumber Daya,
lingkungan alamnya, hingga penduduknya.
IJIN DOWNLOAD. MAKASIH BANYAK YO
BalasHapusHow to win at a Baccarat table - Wolverione
BalasHapusHow to win at a Baccarat table? 제왕 카지노 So if a team wins by two, they are the first to place 1xbet a single bet, and then in worrione some places you are able to add that up.